SWR METER DENGAN FREKUENSI KERJA 1,5 - 70 MHz
Daftar Isi
Pendahuluan
Perbandingan Gelombang Berdiri
Rangkaian SWR Meter
Konstruksi
Pengujian SWR Meter
Daftar Komponen
Referensi
![]()
Download
File dalam Format Microsoft Word 7.0 (SWR.ZIP)
Semua Informasi yang terkandung di dalam tulisan ini akan di
download dengan menggunakan format Microsoft Word 7.0
PENDAHULUAN
Bagi para penggemar elektronika, khususnya dibidang
telekomunikasi yang sering berkecimpung dalam hal perancangan dan
pembuatan sebuah peralatan komunikasi yang terdiri dari pemancar
dan penerima sebagian besar mereka membutuhkan suatu piranti ukur
yang dapat memberikan informasi mengenai performa dari peralatan
telekomunikasi yang mereka rancang. Dalam hal ini, SWR (Standing
Wave Ratio) Meter dapat digolongkan sebagai suatu piranti ukur
yang mutlak dibutuhkan oleh mereka yang sedang merancang dan
membuat sebuah peralatan telekomunikasi. Pada peralatan
telekomunikasi perlu diperhatikan mengenai saluran transmisi
antara pesawat pemancar dengan antena, dimana selama terjadi
pengiriman sinyal maka pada saluran transmisi akan timbul apa
yang disebut dengan sinyal RF datang (daya sinyal yang menuju
pada antena) dan sinyal RF pantul (daya sinyal yang kembali dari
antena).
Perbandingan kedua sinyal ini merupakan suatu indikasi kecocokan (match) antara pemancar, saluran transmisi dengan antena. Apabila perbandingannya cukup besar, dalam artian bahwa sinyal RF pantul hampir sebanding dengan sinyal RF datang maka kondisi peralatan pemancar tersebut tidak cocok (mismatch) dengan saluran transmisi dan antena. Hal ini dapat mengakibatkan sinyal RF pantul yang kembali menuju ke rangkaian pemancar akan merusakkan komponen-komponen vital yang ada pada pemancar seperti transistor daya RF yang harganya cukup mahal. Dari sinilah dibuat suatu alat ukur SWR meter yang nantinya dapat digunakan untuk melihat dan menyesuaikan kondisi matching antara pemancar, saluran transmisi dan antena.
PERBANDINGAN GELOMBANG BERDIRI
(Standing Wave Ratio)
Perbandingan antara daya RF datang dengan daya RF pantul
disebut dengan perbandingan gelombang berdiri atau SWR. Dalam
menggunakan SWR meter, kita bekerja pada satu masalah, yaitu
impedansi dari saluran transmisi. Disini istilah "daya"
akan digantikan dengan "tegangan", sehingga gelombang
berdiri tersebut mempunyai tegangan maju (UF-) dan tegangan
mundur (U-R). Kemudian nilai dari SWR tersebut dapat dinyatakan
dengan :
SWR = (Uf + Ur) / (Uf - Ur)
Dari sini dapat dilihat apabila nilai SWR = 1, berarti adanya kesesuaian impedansi (matching impedance) antara pemancar, kabel transmisi dengan antena. Inipun tidak dapat dikatakan bahwa sistem pemancar tersebut tidak mempunyai rugi-rugi, namun hanya keluaran dari pemancar sesuai dengan impedansi beban yang dibentuk oleh saluran transmisi.
Nilai ambang batas dari SWR ini untuk mengindikasikan adanya ketidakcocokan yaitu berkisar antara 1,5 sampai 2,0. Beberapa penyebab ketidakcocokan (mismatch) ini antara lain karena penalaan penguat RF yang kurang benar, penggunaan kabel koaksial yang keliru impedansinya, atau dengan masalah penyambungan antar kabel dengan pesawat maupun antena. Namun bagaimanapun juga pastikan untuk menghilangkan penyebab-penyebab tersebut sebelum memulai memancarkan sinyal RF. Hal ini disebabkan karena penggunaan sinyal RF untuk sinyal SSB maupun sinyal linier yang lain apabila tidak match maka akan menghasilkan keluaran spektrum yang lebar sehingga akan mengganggu jalur frekuensi lain yang sedang digunakan.
RANGKAIAN SWR METER
Gambar dari rangkaian SWR Meter ini dapat anda lihat pada Gambar
1. Dari rangkaian tersebut dapat dijelaskan bahwa daya yang
datang dan daya yang terpantul akan menginduksi tegangan RF pada
induktor L1 yang melilit kabel koaksial. Pastikan bahwa kabel
koaksial ini di-ground-kan salah satu ujungnya, karena bila kedua
ujungnya di-ground-kan maka tidak akan terjadi radiasi.

Gambar 1 : Rangkaian SWR Meter
Dari sini tegangan RF dari pemancar akan terkopel secara kapasitif melalui C1 yang nantinya akan berfungsi sebagai referensi untuk mengukur daya yang datang dan daya yang terpantul. Kapasitor penggandeng ini dihubungkan dengan rangkaian tertala L2, L3, C2, C3 yang berfungsi untuk mengukur rangkaian pada frekuensi tinggi.
Daya yang datang dan daya yang terpantul akan disearahkan oleh dua diode D1 dan D2 agar dapat dibaca daya relatifnya oleh SWR meter. Sedangkan untuk saklar S1 berfungsi untuk memilih pengukuran terhadap daya yang datang ataupun daya yang terpantul.
KONSTRUKSI
Untuk konstruksi dari rangkaian SWR meter ini dapat
dilihat pada Gambar 2 dengan hubungan untuk komponen terluarnya.
Untuk penempatan komponen-komponennya dibutuhkan sebuah PCB dua
sisi (double layer) yang dapat dilihat pada Gambar 3. Hati-hati
dalam menyolder kapasitor trimmer C2, kemudian pastikan bahwa dua
soket BNC terhubung dengan kabel koaksial 50 W jenis RG174U
dengan panjang 4 cm dan diameter 3 mm.
Cara penggulungan dua induktor L1 dan L2 :
Induktor L1 : Kawat email digulung sebanyak 30 lilitan dengan diameter 0,2 mm (SWG36, AWG34) pada cincing inti ferit tipe FT 37-43 atau FB 43-2401 dengan kerenggangan yang sama pada semua lingkaran cincin.
Induktor L2 : Kawat email digulung sebanyak 6 lilitan dengan diameter 0,2 mm (SWG36, AWG34) pada feritte bead sepanjang 3 mm.

Gambar 2 : Konstruksi sambungan SWR dengan komponen luar

Gambar 3 : PCB dua sisi untuk SWR meter
PENGUJIAN RANGKAIAN SWR METER
Hubungkan rangkaian SWR meter yang telah dibuat dengan pemancar
gelombang pendek serta sebuah beban yang tidak bersifat
memantulkan daya yang datang seperti dummy load yang sudah
diketahui impedansi dan dayanya. Kemudian hidupkan rangkaian
pemancarnya. Apabila penunjukkan daya yang datang dan daya yang
terpantul terbalik maka ubah saja posisi indikasi pada meter
anda.
Apabila anda bekerja pada band gelombang pendek saja, maka tidak perlu pengaturan lagi pada kapasitor trimmer C2. Sedangkan apabila anda bekerja pada frekuensi 50 MHz sampai 75 MHz, maka hubungkan dummy load pada keluaran SWR meter, kemudian atur kapasitor trimmer untuk kondisi daya yang terpantul sekecil mungkin. Setelah itu gunakan SWR tersebut untuk menyesuaikan kondisi match antara pemancar dan antena anda dengan cara mengubah posisi antena atau mengatur kapasitor trimmer yang ada pada pemancar anda sampai pada SWR meter tersebut nilai dari daya yang terpantul sekecil mungkin. Untuk mengatur besarnya defleksi dari meter anda, ubah posisi saklar pada posisi pengukuran daya datang dan atur potensiometer P1 untuk memperoleh nilai defleksi (range) meter yang sebesar mungkin. Apabila semuanya anda lakukan dengan benar maka semakin besar nilai penunjukkan dari daya yang terpantul maka semakin buruk/jelek performa dari sistem pemancar anda. Silakan Mencoba!
DAFTAR KOMPONEN
Resistor :
R1, R2 = 150 W
R3, R4 = 1 kW
P1 = 100 kW potensiometer linier
Kapasitor :
C1 = 12 pF
C2 = 40 pF trimmer
C3 = 82 pF
C4, C5 = 10 nF
Semikonduktor :
D1, D2 = AA119
D3, D4 = 1N4148
Induktor :
L1 = FT37-43
L2 = 3 mm ferrite bead
L3 = 560 mH (kawat email dia. 0,2 mm)
Lain-lain :
S1 = Saklar SPDT (Single Push Double Touch)
M1 = meter 100 mA
K1, K2 = socket BNC
REFERENSI
1. DR. P. Brumm, DL7HG, Losses Encountered when Interconnecting
cabling having the incorrect impedance, VHF Communications issue
3/1974.
Home | What's New | The
Profile | Story of Mine | Please Help Me !! | Forum
| My Inspiration
My Friends | The
Very Best | The Gallery | The Rest | Special Link
Copyright 2001 - Moon Production
All content in this site is designed by Munying
any comment or suggest to : munying@hotmail.com
08/12/01 19:25:52