...Dariku, Sahabatmu!
Oleh : Mereka, yang mengaku Sahabat

Untuk yang satu ini, salam dari sahabatku.... sebuah ungkapan perasaan tak ternilai bagi diriku
Terima Kasih, Sobat!

Table of Content

Rumah M. Munir,ST
Disuatu Pergantian Musim
Aku Ingin Mencintaimu
Surat Gibran Kepada May Zaiddah Ilyas
Gerimis
Di Kalipenggung

 

RUMAH M. MUNIR, ST

Setelah semalam pesta larut
Kami bangun ketika matahari sudah sama tinggi dengan jendela
Waktu itu hari minggu
Nyonya Munir mengajak kami sarapan di kebun belakang rumahnya
Semua telah tersedia
Kursi kebun warna-warni di atas rumputan hijau
Dikelilingi selusin pohonan.
Dan diatas meja fantastis yg kehijauan
Tersedialah cangkir-cangkir kopi, buah-buahan roti dan poci-poci
Putra Munir telah menunggu membaca koran
dalam seragam lab. Mesin Fakultas Teknik, ia mahasiswa
dengan pakaian rapi saya datang menemui orang-orang,
buah-buahan, rumputan dan pohonan, burung-burung
dan langit pagi warna merah kuning dan jingga,
dan segala warna warni, serta kopi, seta roti
"Oom Haris berniat kawin lagi", kata junior sambil menuang kopi
Waktu itu saya sedang memenuhi paru-paru dengan
hawa sejuk kota pegunungan
Saya tak menjawab apa-apa.

Tuan Munir dan Nyonya Silvy datang
ketika saya tengah asyik memandang
rumahnya yang bertingkat dua
dengan jendela-jendela yang bertirai ungu.

" Bagus betul sudah mandi ?" tanya Munir.
Saya menguap dan tertawa.
"Rambut mas Bagus selamanya begitu, tampak rapi
walau tanpa mandi." Begitu istrinya bercanda

" Kita mesti kembali ke jiwa Reformasi !"
Kata Munir pada putranya.
Saya melihat ayam berkokok di atas pagar.
Betinanya mengaisi tanah.
Dan daun ekor angsa berjalan malas turun ke kolam.
Lamban. Tanpa jiwa. Fana

"Penularan Virus lewat E-mail dan Internet makin marak
rupanya !" kata Silvy memancing perdebatan.
Saya asyik mengamati terali balkon yang dibentuk bagai Lili.
Dingin dan jelita. Fana.

" Pucuk cemara kadang bagai tangan jauh yang melambai "
Kataku tanpa memalingkan muka.
" Saya akan menuntut lebih banyak persamaan bagi wanita "
terdengar orang lain bersuara pula, Silvy yg bersuara.
Bunga trembesi berputar-putar sebentar di udara,
Bagai kupu-kupu.
Gugur ke bumi. Rebah ke bumi. Fana.

Rumah besar itu berkapur putih
Dan jendelanya bercat kelabu.
" Saya tahu !" kata Munir.
" Bagus sedang memikirkan sebuah naskah soneta !"
" Kau pikir begitu ?" canda istrinya.
" Saya sedang berpikir dimana ada mrica dan garam "
Mereka berbareng tertawa.
Dan Silvy bergegas mengambil mrica di dalam.

Mulut terbuka untuk tertawa.
Mulut terbuka, makan dan pesta.
Mulut terbuka, menguap fana.
Cendawan subur tanpa jiwa.

( Sebuah catatan ketika aku berkunjung sendiri.
Tanpa istri-istriku dan anak-anak. )

kembali ke atas

 

DI SUATU PERGANTIAN MUSIM
( ketika telah tak sejalan, perpisahan bagai
sebuah impian, right nir ? )

Lalu datang kapal itu, dari bayangan kabut
menguak lebar pintu-pintu hatiku
Melimpah ruah rasa girangku
meluapi batas-batas samudra
Namun ketika aku menuruni bukit,
perasaan sedih mencengkeram diri
Aku berfikir dalam hati,
betapa aku dapat meninggalkan tempat ini
dengan kedamaian di hati, tanpa duka ?
Berkepanjangan hari-hari derita yang kuhayati di antara dindingnya
Dan cukup panjang pula malam-malam kesepian
Tapi siapakah yang dapat terpisah dari kesedihan dan
kesepiannya, tanpa rasa pilu dihati ?
Terlalu banyak kepingan jiwaku berserakan di sepanjang jalan ini
dan terlalu banyak buah rinduku berlari-larian
di antara bukit-bukit ini
Laksana anak-anak telanjang
tiada kuasa aku memisahkan diri dari mereka
tanpa berat hati dan tersayat
Bukanlah sehelai baju yang kutanggalkan dari badan ini
Namun seserpih kulit,
Yang kurobek dengan tanganku sendiri
Namun tak mungkin aku lebih lama termangu
Laut yang mengimbau segala agar datang padanya
juga menyeru aku
Aku mesti bertolak !
Ketika sampai di kaki bukit, sekali lagi kutoleh arah laut
Dan tampaklah kapalku merapat dermaga
maka berteriaklah juwaku menyambut mereka
Hai para penunggang gelombang,
Betapa sering kulihat kau berlayar dalam mimpiku
kini kau menjelangku dikala jaga,
Dan inilah mimpiku yang lebih murni
Sudah siap aku berangkat, dan gairahku mekar
berkembang bagai layar terpasang
menggelembung menantang angin
Lalu kutegak berdiri di tengah-tengahmu
Seorang pelaut diantara pelaut
Dan kau lautan luas
Padamu sungai dan anak-anak sungai menemukan
kedamaian dan kebebasannya
dan aku berada di pangkuanmu

kembali ke atas

 

AKU INGIN MENCINTAIMU

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat disampaikan oleh awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan oleh kayu kepada api
yang menjadikannya tiada

kembali ke atas

 

SURAT GIBRAN KEPADA MAY ZAIDDAH ILYAS

Aku menggunakan siang dan malamku untuk melukis dan menulis
Tapi aku tidak berada di siang dan malamku
Aku ini kabut, May…
Kabut yang menyelubungi segala sesuatu, tapi tak pernah mempersatukannya.
Aku adalah kabut yang tidak pernah berubah menjadi air hujan
Aku kabut, dan kabut adalah kesunyianku dan kesendirianku
Dan di dalamnyalah terdapat lapar dan dahagaku
Tapi, kemalanganku adalah bahwa kabut itu merupakan kehadiranku
yang rindu hendak bertemu kabut lain di angkasa.
Ingin mendengar kata-kata " engkau tidak sendiri, ada kita berdua,dan
aku tahu siapa engkau "

kembali ke atas

 

GERIMIS

Pada punggung rumputan
Gerimis mencatat kesendirianku
Tetes air yang mengalir ke hilir
Sarat kesepian bahkan kesunyian

Di bawah langit yang hitam berkabut
Di bawah suar-siur suara pepohonan
Adakah di ujung langkah ini
Kau menantiku sepenuh rindu ?

Selebihnya di atas air
yang mengalir ke hilir, selembar
daun lenyap dalam pandangan

kembali ke atas

 

DI KALIPENGGUNG
Ketika menelusuri suatu tempat bersama Buyung
ditulis buat kawanku karib: Munir

Hawa dingin menusuk hidung
Diatara hijau warna gunung
Di Kalipenggung khayalku jauh melambung
Dilusur kerinduan tak terhitung

Pasti kau suka sekali tempat ini
Tanah berbukit yang sering kau puji
Tanah tandus yang kau ceritakan berulang kali
Tanah dimana sekarang aku berdiri

Coba kalau 'Dia' ada
Pasti bahagiaku takkan terkata
Pasti indah ini takkan ada taranya
Dan berdua kami kan nikmati Lumajang

Misalkan 'dia' ada,..( tau kan nir, who`s she ?)
Cuma sebatas itu aku bisa miliki asa
Sedangkan kenyataan di depan mata
Sendiri ku melangkah,.. di Kalipenggung

membayangkan,
bila berjalan
berduaan, bersisihan

kembali ke atas

 

 

Home | What's New | The Profile | Story of Mine | Please Help Me !! | Forum | My Inspiration
My Friends | The Very Best | The Gallery | The Rest | Special Link

 

SUPPORTED BY

Copyright 2001 - Moon Production
All content in this site is designed by Munying
any comment or suggest to : munying@hotmail.com
20/12/01 07:51:00