Mimpi
Oleh : Muhammad Munir

Aku duduk terdiam diantara kursi panjang yang terbuat dari kayu yang kini sudah mulai lusuh. Di beranda rumah kecilku di pinggiran kota Malang, pada suatu senja yang semakin meredup oleh kemalasan matahari untuk menunjukkan batang hidungnya. Tanah di halaman muka rumah itu mulai mengering, karena sudah seminggu tidak kuurus. Rumput-rumput liar itu mulai menampakkan kepongahannya untuk menyepatkan kesedapan mata agar aku tidak dapat melihat pagar kayu rumahku yang juga sudah mulai lapuh.

Biasa memang, aku menemani secangkir kopi dan sebatang rokok sisa semalam untuk melewati sore sembari melahap kepulangan buruh-buruh kasar pabrik Rokok yang sudah mulai enggan untuk bekerja karena ketidakpastian masa depan anak-anak mereka akibat rembesan suhu politik di negeri ini yang semakin tidak menentu. "Padahal sudah 10 tahun orang-orang berteriak perubahan", gumamku. Aku bersandar dengan kepenatan jiwa yang tiada tara, dikeseharianku sebagai seorang pegawai kecil di sebuah percetakan swasta. Meskipun aku juga mencoba menyibukkan diriku menjadi seorang penulis lepas di suatu koran Malang, namun hanya beberapa helai uang puluhan ribu tiap minggunya, aku bisa memberikan keyakinan pada mereka. Inilah hidup!

Sempat kulihat wajah-wajah kusuh itu menoleh kearahku sambil tersenyum, seolah-olah mereka baru pulang dari medan peperangan dengan membawa kekalahan jiwa. Seteguk kopi yang mulai mendingin beserta isapan rokok memberikan suatu kehangatan tersendiri diantara kekalutan yang mulai melanda pikiranku. Akankah aku terus begini? Menjadi seorang kecil yang semakin merasa terpinggir oleh hasrat menggebu-gebu segelintir orang-orang yang mulai merasakan nikmatnya menjadi penjilat, penginjak, penendang dan beberapa predikat moral lainnya yang sudah bosan aku memikirkannya.

Asap liar itu mulai bosan untuk berlama-lama di dalam paru-paruku, mereka gerah untuk segera keluar dari hidungku. Seiring dengan lamunan dan angan-anganku untuk mencoba menelusuri kembali jejak kaki seseorang yang mempunyai idelisme memuncak untuk mewujudkan cita-citanya. Aku mencoba untuk menelusuri jejak langkahku sendiri ke belakang. Aku berhasil menemukannya, aku berhasil menemukan diriku kembali. Kulihat diriku dengan segala kesibukannya untuk menyelesaikan tugas akhirnya sebagai seorang mahasiswa fakultas teknik di salah satu universitas negeri di kota Malang.

***********

Saat itu aku membayangkan diriku untuk segera menuntaskan segala keruwetan pola hidup mahasiswa yang selalu diikuti oleh seonggok tumpukan tugas-tugas kuliah dari dosen yang tidak mau tahu segala alasan yang mereka tidak akan menerimanya. Aku harus menyelesaikan kuliahku, aku harus pulang ke rumah dengan membawa segenggam ijazah ditambah keyakinan diri untuk diterima oleh bapak ibuku seraya berkata, "Ini lho anakku, satu-satunya yang bisa membanggakan orang tuanya, seorang insinyur". Ah… biarkan saja! Mereka menganggap aku dewa penyelamat mereka, yang penting aku punya satu asa ke depan, berhasrat untuk berkarier sesuai dengan latar belakang pendidikanku."Pak, Bu ! Aku sudah dapat pekerjaan, di perusahaan Telekomunikasi dan akan ditempatkan di Batam", sampai kini aku merindukan kata-kata itu. "Alhamdulillah", terlihat pancaran sinar kebahagiaan di mata kedua orang tuaku.

Bayanganku terus bergulir seiring dengan waktu, aku punya karier yang memang memberikan harapan masa depan. Dan hari-haripun terus kuisi dengan segala keruwetan pekerjaan kantor. Dan saat itu aku merasakan kerinduan akan pulang ke rumahku sendiri dengan sederet teralis besi berukiran indah, ada sebuah mobil sedan putih bertengger di garasi. Sore hari itu dengan segala kepenatan kerja, aku sudah dihidangkan seberkas senyuman manis dari Ratih, istriku. Ku dekati dia, dan Cup! Kecupan manis dibibirnya yang kecil membuat hati ini terus melayang tanpa merasakan kegalauan sedikitpun. Kulepaskan semua isi batin ini untuk bersantai di beranda rumah sembari membaca koran diatas sebuah kursi bermotif Bali. Kulihat Ratih, istriku mendekatiku sambil membawa secangkir kopi susu panas, dia duduk disampingku melihat anak-anakku bermain kejar-kejaran di taman bunga depan rumah yang cukup luas.

Damai hati ini saat itu, segala apa yang didambakan kedua orang tuaku kuwujudkan dengan semua jerih payahku. Aku tersenyum, ada seberkas sinar kebahagiaan di dada ini. Tak ada yang lebih bahagia di dunia ini selain diriku. "Ha.. Ha… Haa .." aku terbahak, bayangan itu terus menggombaliku.

************

Lamunanku segera membuyar, tatkala bangku panjang yang kududuki berderit karena diduduki oleh seseorang. Kutoleh, Ratih mendekat dengan desahan nafasnya seolah menatap ke depan. "Ah… sudahlah mas, aku tahu, Mas pasti membayangkan yang itu-itu juga" Dia menatapku dengan mata suram penuh perhatian. "Aku sudah lebih bahagia, bila kita menyadari, inilah hidup kita" Tambahnya. "Bukan begitu… aku hanya… Ah.." Aku mulai bosan untuk mengungkapkan perasaanku yang takkan pernah berubah kepada istriku. "Sudahlah…. Aku mengerti kok mas, aku nggak tahu harus bilang apa… tapi yang pasti aku akan terus mengucapkan banyak terima kasih padamu, mengenai betapa hidup ini takkan indah bila kita tidak dapat merasakan apa yang tidak dapat dirasakan oleh orang lain" Aku tersentak dengan kata-kata istriku. Terasa di dalam hati ini muncul kembali gairah hidup yang hampir terjerumus ke lembah keputusasaan. Di balik hati yang gundah ini, ada perasaan yang terpendam, bahwa aku benar-benar harus bersyukur kepada Yang Kuasa bahwa, dialah istriku!!.

Malam semakin larut, obrolan kehidupan semakin jauh ke dalam. Kelelahan jiwa keseharian mulai terasa. Istriku bersandar dipundakku. "Kamu nggak lelah ...?" kuusap pipinya penuh kemesraan. Dia menghela nafas, mengisyaratkan bila sudah saatnya untuk menutup hari dengan seberkas senyuman. Akhirnya malam itu pun terlewati penuh dengan gejolak hati yang tak terpenuhi. Berlalu sudah satu hari, yang terus mencoba menahan langkahku untuk meraih harapan bersama istriku, keluargaku!.

**************

Suara-suara kegaduhan itu terus menggangguku. Mencoba untuk mengusik tidurku yang serasa semalam penuh dengan kelelahan batin. Aku menggeliat, kucoba untuk membuka mata ini dengan perasaan berat. Kulihat disekelilingku. Agak terasa aneh tapi aku samar-samar teringat. Jam dinding yang menunjukkan angka 4.30 berbentuk jam tangan itu masih menempel di dinding tepat didepanku. Kutoleh kekiri, tidak ada Ratih, yang ada hanya lukisan-lukisan poster beberapa orang penyanyi. Ku toleh kekanan, ada beberapa berkas-berkas tulisan skripsi yang belum selesai. Aku mulai tersadar, kegaduhan itu adalah suara temen-temen kostku. "Ha.. haa… haa… haaa… Aku masih di sini, aku masih menjadi seorang mahasiswa" teriakku dalam hati penuh dengan kekecewaan. Tapi dibalik itu semua, di balik hati yang paling dalam sekalipun aku menggumam "Ya… Allah, sungguh besar karunia-Mu kepadaku, ternyata Engkau telah memberiku kenyataan bahwa sekalipun mimpi itu benar-benar terjadi takkan pernah menggoyahkan pikiran dan harapanku… Aku harus bisa!!"

*********

Malang, 25 Agustus 1999

Bualan seorang pemimpi tua.

 

 

 

Home | What's New | The Profile | Story of Mine | Please Help Me !! | Forum | My Inspiration
My Friends | The Very Best | The Gallery | The Rest | Special Link

 

SUPPORTED BY

Copyright 2001 - Moon Production
All content in this site is designed by Munying
any comment or suggest to : munying@hotmail.com
08/12/01 19:25:09